Bulan puasa telah datang, dan banyak umat di seluruh dunia yang merindukan. Tidak terkecuali umat Islam yang ada Indonesia bagaikan terkena magnet pesona bulan puasa, semua menyambutnya dengan gegap gempita. Ada banyak ragam model penyambutan yang dipersiapkan, mulai dari perasaan senang, ekspresi kebahagiaan, bahkan yang dengan perilaku yang menurutnya cocok dengan momentum puasa. Akan tetapi juga ada yang menyambutkan dengan berbagai cara untuk mendatangkan keuntungan, semua ada berkah bulan yang disucikan umat Islam, Ramadlan.
Sampai sekarang hingar bingar penyambutan datangnya bulan puasa masih terasa, karena memang masih pada minggu pertama. Sayangnya model penyambutan datangnya bulan puasa ini ada yang sesuai dengan aturan syara' dan ada juga yang justru melanggarnya. Entah semua tersedot dalam uephoria ramadlan, semua bergantung dan berharap semoga Allah berkenan memasukkan mereka ke dalam surga, karena telah merasa senang akan datangnya bulan ramadlan. Dalam hadis Nabi diungkapkan :من فرح بدخول رمضان دخل الجنة "barang siapa yang senang/ bahagia dengan datanganya bulan ramadlan, maka ia masuk surga". Ini adalah kehebatan bulan puasa, orang yang hanya bahagia saja sudah masuk surga.
Diakui atau tidak, sebenarnya dalam penyambutan bulan suci ini terdapat kontroversi yang bisa jadi "dapat memicu konflik" jika tidak disikapi dengan arif. Tidak saja dalam penyambutannya, amaliah yang dikerjakan oleh umat Islam di Indonesia pun selama bulan Ramadlan pun juga berbeda-beda.
Pertama, model penyambutan; sejak awal sudah ada perbedaan mengenai waktu datangnya bulan ramadlan. Ada sebagian kecil umat Islam yang sudah mendahului yang lain, ada juga yang menggunakan metode berbeda dalam penentuan datangnya bulan. bersambung.........